Harap Sudilah Follow

Sila Klick tanda sokongan kepada blog ini..




PENAJA UTAMA
Showing posts with label teladan. Show all posts
Showing posts with label teladan. Show all posts

February 9, 2011

ALLAH TIDAK MEMBEBANI SESEORANG MELAINKAN SESUAI KESANGGUPANNYA

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, "Tatkala ayat: `Kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan di bumi. Apabila kamu menampakkan atau menyembunyikan apa yang ada pada dirimu, maka Allah akan memperhitungkan kamu lantaran perbuatan itu. Lalu Dia mengampuni orang yang dikehendaki-Nya dan mengazab orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu' (al-Baqarah:284) diturunkan kepada Rasulullah saw. maka hal itu sangat menyulitkan para sahabat beliau.
Mereka menemui Rasulullah. Mereka berlutut seraya berkata, `Ya Rasulullah, kami telah dibebani berbagai amal yang dapat kami kerjakan seperti shalat, shaum, jihad dan sedekah. Sekarang ayat itu diturunkan kepada engkau, dan kami tang sanggup mengamalkannya.'

Maka Rasulullah saw bersabda, `Apakah kamu hendak mengatakan apa apa yang telah dikatakan oleh para Ahli Kitab terdahulu, yaitu `kami mendengar namun kami mendurhakainya?' Namun katakanlah olehmu, `Kami mendengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami. Dan kepada Engkaulah tempat kembali.'

Setelah orang-orang menginsafi ayat itu dan mengucapkan keinsafannya dengan lidah mereka, maka Allah menurunkan ayat yang sesudahnya, yaitu `Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. `Kami tidak membeda-bedakan sedikit pun antara seorang rasul dengan rasul lainnya.'

Dan mereka mengatakan, `Kami dengar dan kami taat. Ya Tuhan kami, ampunilah kami, dan kepada Engkaulah tempat kami kembali.' Setelah mereka mengamalkan ayat itu, maka Allah menasakh ayat tadi dengan ayat, `Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), `Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau khilaf.'"

Baca al-Baqarah, 284-286
»»  READMORE...

November 30, 2010

AMIR SYUHADA

Untuk pertama kalinya dia tumpahkan airmata kesedihannya saat usianya belum genap sepuluh tahun. Saat itu, di depan matanya dia menyaksikan kedua orang tuanya dan ratusan ribu bangsanya dibantai dan diusir dari Deir Yasin. Itulah saat pertama dia mengenal langsung kekejaman Yahudi yang selama ini hanya didengarnya dari cerita ibunya, dan saat itu pula tergambar bayang-bayang penderitaan bangsanya Kemudian tangis kesedihan itu secara beruntun menerpanya, ketika Irgun membawa satu persatu orang-orang tercintanya tanpa pernah lagi kembali. Saat dia melepas suaminya pada perang Ramadhan (1973), saat itu Amir, putera mereka, baru saja melewati satu tahun usianya. Amir masih terlampau kecil untuk memahami, ketika suatu senja seseorang datang memberitahu tentang kesyahidan ayahnya.

Sudah terbayang masa depan hidupnya, seorang janda dan seorang bayi di tengah penindasan Yahudi. Saat itu tidak ada yang ingin dilakukannya kecuali menangis. Tapi tidak, dia tidak melakukan itu. Saat itulah dia memulai tekadnya untuk tidak ingin menambah kegembiraan orang-orang Yahudi dengan airmata kesedihannya. Lebih dari itu dia tidak ingin mengajari Amir menjadi pemuda yang lemah. Dan sejak saat itu pula, setiap kesedihan yang menerpa, digubahnya menjadi senandung-senandung jihad yang dia bisikkan ke telinga Amir, hingga memenuhi rongga dada anaknya. Dia masih mampu bertahan untuk tidak menangis saat pembantaian Taal el-Zatar ataupun Sabra Shatila yang menghabisi kerabatnya yang tersisa. Masih disisakan sedikit harapan dalam dirinya demi seorang Amir putera tercintanya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan warisan paling berharga dari suaminya itu. Sekian tahun dia telah membendung tangis itu, tapi tidak untuk hari ini.
Kata-kata pemuda tampan dihadapannya telah mengikis kekukuhan benteng pertahanannya. Dicubanya untuk mengelak dan memujuk hatinya, bahawa yang didengarnya beberapa minit yang lalu hanyalah mimpi. Tapi susuk di depannnya teramat nyata untuk dia mengingkarinya. Amir Syuhada, pemuda tegap didepannya itu, satu-satu puteranya, kembali mengulang kata-katanya, "Bonda, izinkan anakanda pergi berjihad". Suara itu terdengar lembut dan penuh harap, seperti lima belas tahun yang lalu ketika Amir kecil meminta baju buat berhari raya. Tapi suara itu kini memendam sebuah tekad dan keberanian, dan dia tahu bahwa dia takkan mungkin sanggup menahan gelora itu. Wanita tua itu menarik nafas panjang menahan esak yang satu persatu saat keluar. Terasa masih terngiang di telinganya 23 tahun yang lalu, kalimat senada diucapkan suaminya. Dengan berat hati dilepasnya pemergian suaminya. Dia masih menyimpan sedikit harapan bahawa suaminya akan kembali, meskipun kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkannya. Tapi kali ini hatinya teramat berat, kerana dia tahu benar apa yang dimaksud dengan kata "Jihad" oleh Amir anaknya. Baru dua hari yang lalu Amir dengan bersemangat bercerita tentang kawan-kawannya yang syahid dalam aksi bom syahadah. Itu ertinya, dia harus menguburkan seluruh harapan akan kembalinya puteranya dengan selamat, bahkan sepotong tubuhnya sekalipun.

"Amir Syuhada" (pemimpin para syahid), perlahan diejanya nama puteranya. Nama yang diberikan oleh suaminya. Nama yang menyimpan sebuah cita-cita amat dalam. "Aku tidak berharap dia menjadi orang terkenal di dunia kerana memimpin sebuah angkatan perang, tapi aku ingin dia menjadi orang terkenal di akhirat kerana memimpin rombongan syuhada. Dia harus menjadi orang yang pertama menyambut setiap kali kesempatan jihad itu datang", begitulah harapan suaminya. Betapa cepat perjalanan hidup. Betapa cepat harapan-harapan berganti. Seminggu yang lalu, Amir dengan malu-malu mengungkap keinginannya untuk mengakhiri masa bujangnya dengan membina rumahtangga. Ya, Amir ingin menikah. Sudah terbayang seorang gadis cantik menjadi menantunya, bahkan sudah terbayang pula cucu-cucu yang akan meramaikan rumah buruknya ini. Namun kehendak ternyata berkata lain. Bukan perlengkapan nikah yang dibawa pulang puteranya hari ini. Tapi sepotong baju khusus dengan kabel-kabel di sana sini dan beberapa bungkusan aneh yang baru kemudian dia tahu berisi bom. Esaknya mulai terdengar saling memburu. Begitupun cairan bening di matanya dibiarkannya mengalir, tanpa usaha lagi untuk menahan. Amir pun terdiam mematung. Baru ketika ibunya mulai tenang, diraihnya tangan tua itu dan digenggamnya penuh perasaan sambil berucap, "Bonda, anakanda lakukan ini kerana anakanda ingin merealisasikan apa yang selama ini menjadi doa bonda terhadap anakanda."

Sekilas wanita tua itu terhenyak mendengar pertuturan anaknya, tapi dia tetap diam tak menyahut. Amir melanjutkan ucapannya, "Bukankah bonda yang setiap malam berdoa agar anakanda menjadi anak yang soleh? Inilah anakanda yang berusaha mewujudkan harapan bonda. Bukankah bonda selalu menasihati anakanda untuk sentiasa istiqamah memegang panji dakwah ini, dan sentiasa memenuhi hidup dengan jihad dan pengorbanan? Menegakkan kalimat tauhid, melindungi kaum yang lemah, membela kebenaran dan keadilan? Bukankah bonda selalu mengingatkan bahawa kemanisan iman hanya dapat dirasakan oleh orang yang menegakkannya dalam dirinya, bahawa bahagia hanya dapat dirasakan oleh orang yang berjuang membela kebenaran dan keadilan, bahawa kemenangan dan kejayaan hakiki hanya akan diberikan pada pejuang yang telah berkorban, kuat menahan penderitaan dan kepapaan, bahawa ketabahan dan kesabaran berjuang hanya akan diberikan pada mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah? Bukankah bonda yang berulangkali mengatakan hal itu? Inilah anakanda Amir yang berusaha menjalankan nasihat Bonda."
Amir mencuba untuk tetap tersenyum, sambil tangannya menggenggam telapak tua ibunya. Dulu ketika masih kecil dia suka merengek dan menarik-narik tangan itu jika menginginkan sesuatu. "Tapi aku tidak berdoa agar kamu mati," perlahan ibunya bereaksi. Dan masih dengan tersenyum Amir berucap, "Bonda...," dengan gaya merajuk Amir menyebut ibunya dan melanjutkan ucapannya, "Siapa yang mahu mati? Bonda tentu masih ingat, bagaimana ketika anakanda masih berusia 7 tahun. Jika anakanda menangis, Bonda selalu menghibur dengan cerita tentang kepahlawanan ayah, tentang keberanian ayah dalam setiap medan tempur, tentang kisah kesyahidan ayah, dan bonda selalu mengakhirinya dengan membaca ayat, Janganlah kamu mengira bahawa mereka yang terbunuh di jalan Allah itu mati, namun sesungguhnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rezeki.


Bonda, anakanda berjihad bukan untuk mati, tapi anakanda berjihad untuk syahid, untuk kehidupan yang lebih abadi." "Tapi tidak dengan bunuh diri," ibunya menukas. "Bunuh diri? Siapa yang mengatakan itu pada Bonda," terdengar nada bicara Amir meninggi, ketika sedar dengan siapa dia berbicara, kembali Amir melunakkan suaranya sambil mengulang pertanyaannya. "Siapa yang mengatakan itu pada Bonda?" tanpa menunggu jawapan, Amir melanjutkan, "Bonda.., Bonda tentu masih ingat ketika anakanda masih kecil, bonda yang selalu mengiring tidur anakanda dengan senandung jihad. Bonda yang menanam benih-benih keberanian itu dalam rongga dada anakanda, Bonda yang telah menyalakan api revolusi itu dalam jiwa anakanda. Kini hantarkanlah anakanda pergi ke medan jihad dengan senandung itu, izinkan anakanda membakar kesombongan Yahudi dengan api itu. Bonda, masih ingatkah Bonda akan senandung Khubaib bin Ady r.a. saat menjelang digantung orang-orang kafir Quraisy?

Sekiranya Allah menghendaki keberkahan dengan menghancurkanlumatkan tubuhku aku takkan peduli, asalkan aku mati sebagai muslim untuk Allah-lah kematianku pasti.
"Sungguh Bonda, jika tegaknya kalimat Allah di bumi ini harus dibayar dengan carikan- carikan tubuh anakanda, anakanda tidak akan pernah mundur. Bonda pula yang berkisah tentang kepahlawanan Ikramah dalam perang Yarmuk, ketika dia berseru, "Siapa yang sedia berjanji setia kepadaku untuk mati?" Kemudian 400 mujahidin serentak menyambutnya, dan mereka tidak mundur sejengkal pun sampai menemui kesyahidan. Inikah yang hendak bunda katakan bunuh diri...? Tidak Bonda, anakanda telah menjual diri ini pada Allah, biarkan anakanda menepati janji." Sejenak ruang itu hening. Esakan wanita tua itupun sudah lama reda, hanya genangan bening yang masih tersisa di sudut matanya. Meski tanpa harap, dicubanya untuk terakhir kali memujuk puteranya, seperti mengingatkan dia bertanya, "Bukankah beberapa waktu lalu kau telah berniat untuk menikah?" Masih dengan senyumnya, Amir menjawab, "Bonda, sekian lama anakanda belajar tentang erti sebuah cinta. Dan anakanda telah menemukan, bahawa cinta yang tertinggi hanyalah untuk Allah. Sekian lama anakanda memendam rindu untuk bertemu Allah, dan saat ini kesempatan itu telah datang. Sungguh Bonda, anakanda tidak ingin kehilangan kesempatan." Diucapkannnya kalimat terakhir dengan nada yang tegas.

Wanita tua itu kembali menarik nafas panjang. Ditatapnya pemuda tegap di hadapanya, seakan dia ingin memastikan bahawa pemuda di hadapannya itu benar-benar Amir anaknya. Dia sebenarnya sudah menyedari sejak lama, bahawa saat-saat seperti ini pasti akan terjadi. Dia pun tahu tak seharusnya mencegah maksud puteranya. Amir bukan lagi kanak kanak kecil yang boleh dipulas telinganya kalau nakal, atapun dipujuk dengan sepotong kuih agar tidak menangis. Amir kini telah membesar menjadi pemuda dewasa, bahkan mungkin terlalu dewasa untuk pemuda seusianya. Dia tahu bahwa kata-kata yang diucapkan Amir benar adanya. tapi dia merasa begitu berat untuk memujuk naluri keibuannya. Sejak Amir terlibat dengan berbagai aktivitas HAMAS, dia sebenarnya telah berusaha mencuba meyakinkan hatinya, bahawa Amir bukanlah miliknya.

Benar, ia telah melahirkannya, memberinya kasih sayang, tapi dia sama sekali tidak berhak mementingkan keinginannya. Benar dia telah menyerikan rumah bagi raganya, tapi tidak pada jiwanya, kerana jiwanya telah menjadi penghuni rumah masa depan yang kini sedang dirisaukannya. Amir telah menjadi milik zamannya, sejarahnya dan tentangannya.
Dia hanyalah sebatang busur, dan Amir adalah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian. Direntangkan-Nya busur itu dengan kekuasaan-Nya hingga anak panah itu meluncur jauh dan tepat. Meliuk dalam suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemahan. Sang Pemanah mengasihi anak panah yang meluncur laksana kilat, sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap. Dia seharusnya gembira, 24 tahun ini mendapatkan kesempatan menyertai perjalanan sejarah Amir. Dia seharunya bangga kerana benih yang dia tanam dengan senandung-senandungnya telah tumbuh subur, dan kini saatnya berbuah. Tidak, dia tidak boleh terbawa perasaannya. Dia tidak boleh menghalangi buah yang telah ranum untuk dipetik. Di tatapnya wajah pemuda di hadapannya, sungguh tampan dan bercahaya, persis wajah as-syahid suaminya. Sorot matanya tajam, menyimpan semangat yang bergelora. Sama sekali tak ditemukan keraguan di sana.

Perlahan tangan tuanya meraba wajah itu. Wanita tua itu mencuba untuk tersenyum, ya, dia harus ikhlas. Dengan suara bergetar dia berkata, "Pergilah anakku, jangan kau risaukan bonda. Simpan kesedihan dan derita bonda jauh disudut hatimu. Jangan kau pergi jika masih ada setitik dendam, bersihkan niatmu hanya untuk meraih redha Allah. Pacakkan tinggi-tinggi panji tauhid di bumi ini. Kalau memang hanya dengan carikkan tubuhmu ia akan tertegak, bonda merelakanmu. Pergilah anakku, dan jangan kau kembali kepada bonda selama nyawamu masih tersisa..." Diciumnya dahi putera satu-satunya itu. Wanita itu tak lagi menangis.
Dilepaskannya pemergian puteranya dengan senyum keikhlasan. Matahari senja menyapu lorong-lorong Tel Aviv. Tidak ada yang memperdulikan ketika seorang pemuda tegap berjalan menghamprii sebuah pos tentera Israel. Tanpa sebarang kata-kata, Boommm..!!, tubuh pemuda itupun meledak menghantar menemui Rabbnya. Berjajar para bidadari berebut kekasih yang baru tiba, seorang pemuda tampan dengan pakaian pengantin dari syurga tampak berbahagia.

Lepas Isya' di sebuah perkampungan di jalur Gaza, seorang lelaki berjalan mengendap-hendap, mengetuk pintu sebuah pondok dengan hati-hati sambil mengucap salam. Wajah seorang wanita tua muncul menjawab salamnya. Tanpa menunggu lelaki itu mendahului berbicara, "Amir Syuhada telah syahid petang tadi. Dan hanya ini yang tersisa dari jasadnya, yang dipesankannya menjelang berangkat." Berkata demikian lelaki itu sambil memberikan sebuah mushaf mungil di tangannya. Wanita tua mendakap mushaf itu didadanya, seperti ia mendakap Amir kecil sewaktu tidurnya. Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan yang dirasakannya hari ini. Seakan ada yang menuntun, dia berjalan menghampiri kamar puteranya. Dengan hati-hati dikuakkannya pintu kayu yang menghalanginya. Sungguh, dia mencium bau harum di kamar itu. Bau harum yang khas keharuman kamar pengantin.

Ibunda...,
Kau ucapkan selamat tinggal,
tatkala aku berangkat berjihad,
Dan kau katakan padaku,
Jadilah singa yang mengamuk meraung,
Kemudian aku berlalu,
mencatat segala pembataian dengan darahku,
Bonda jangan kau bersedih,
Kini belengguku berat Bonda,
Namun...kemahuanku tak terkalahkan,
Penjara dan siksaan mereka tak menakutkanku,
Aliran letrik tak kuasa menyengatku,
Bonda jangan bersedih,
Goncangku kanku jadikan pintu jahim,
yang meledak menghentam para musuh,
Betapapun kuatnya belenggu,
Dengan sabar dan tekad bulat kurantas belengguku,
Bonda jangan kau bersedih,
Bersabarlah Bonda,
Jika tiada lagi pertemuan,
Dan semakin panjang malam mencengkam,
maka esok kita kan hidup mulia,
Di atas negeri kita sendiri,
Bonda...jangan kau bersedih.

"Wahai, kaum muslimin! Lawan dan musuhmu berani menyerang dan menjajah kamu hanyalah kerana Allah meninggalkan kamu. Janganlah kamu mengira bahawa musuhmu telah meraih kemenangan atas kamu tetapi sesungguhnya Allah Yan Maha Pelindung dan Maha Penolong telah berpaling dari kamu. Demi Allah, musuh-musuhmu bukannya kuat, tetapi umat Islam yang lemah."
(Asy-Syahid Hasan al-Banna)

"Saya mengagumi seorang pemuda kerana keberanian dan kemahirannya dan saya mengagumi seorang pemudi kerana adab dan sifat malunya. Sebab, keberanian adalah pelengkap akhlak dan sifat utama pemuda, sedangkan malu adalah kecantikan pemudi yang paling utama."
(Mustafa Luthfi al-Manfaluthi)
»»  READMORE...

November 29, 2010

BAYI YANG BERKATA-KATA

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, baginda bersabda: “Tidak ada yang bercakap dalam buaian kecuali tiga orang, iaitu Isa bin Maryam dan sahabat Juraij. Juraij adalah seorang yang rajin beribadat. Dia membuat surau sendiri untuk tempatnya beribadat. Pada suatu hari ibunya datang ke suraunya ketika dia sedang solat. Ibunya berkata (memanggil): “Juraij .... Juraij.....” Juraij yang sedang solat itu berkata dalam hatinya: “Ya Tuhanku, apakah aku penuhi panggilan ibuku atau kuteruskan solatku?” Akhirnya dia mengambil kesimpulan untuk meneruskan solatnya saja. Ibunya merasa kecewa dan pulang ke rumah. Esok harinya ibunya datang lagi dan Juraij pun sedang mengerjakan solat. Ibunya memanggil: “Juraij.....Juraij.”

Juraij berkata dalam hatinya: “Tuhanku, apakah kupenuhi panggilan ibuku atau kuteruskan solatku?” Dia memilih untuk meneruskan solatnya daripada memenuhi panggilan ibunya. Ibunya pun pulang lagi dalam keadaan kecewa.
Esoknya lagi (untuk kali yang ketiga), ibunya datang lagi dan kebetulan Juraij sedang solat. Ibunya memanggil: “Juraij....... Juraij.” Juraij ragu lagi: “Tuhanku, ibuku atau solatku?” Dia masih juga mengutamakan solatnya.
Ibunya yang semakin kecewa itu berkata: “Ya Allah, janganlah matikan Juraij itu sebelum dia melihat wajah wanita-wanita penzina.”


Rupanya kaum Bani Israil sedang sibuk memperkatakan Juraij kerana hebatnya beribadat dan mereka merasa cemburu melihatnya. Seorang wanita jahat dan pandai menggoda lelaki berhias kemudian berkata kepada mereka: “Kalau kamu mahu biar aku goda dan aku fitnah dia.”

Wanita itu pergi ke tempat peribadatan Juraij dan cuba menggodanya tetapi Juraij tidak terganggu kekhusukannya. Kerana kecewa, wanita itu pergi menjumpai seorang penggembala yang tidak berapa jauh dari surau Juraij. Lelaki itu menyambutnya dengan baik dan terjadilah perzinaan dan akhirnya wanita itu hamil. Setelah melahirkan anak, wanita itu mendakwa bahawa anak itu dari Juraij. Sebab itu masyarakat kampungnya pergi mendatangi Juraij. Mereka memukulinya dan menghancurkan tempat peribadatannya. Juraij merasa hairan dan berkata: “Ada apa ini?” Mereka menjawab: “Engkau telah berzina dengan wanita liar yang bernama ini dan dia telah melahirkan anak dari benihmu sendiri.”

Juraij berkata: “Di mana anak itu?” Mereka membawa anak itu ke hadapan Juraij. Juraij meminta kebenaran dari mereka untuk mengerjakan solat sunat dua rakaat. Selesai mengerjakan solat, Juraij mendekati anak itu. Dia memperhatikannya, lalu menekan perutnya dan berkata: “Wahai bayi, siapa ayahmu?” Bayi yang baru lahir itu menjawab: “Ayahku si Polan, seorang pengembala.”Mereka semua tercengang, lalu mencium tangan Juraij, memeluk tubuhnya dan meminta maaf kepadanya sambil berkata: “Biarlah tempat peribadatanmu ini akan kami bina semula dan akan kami buat dari bahan emas.”

Juraij berkata: “Tidak, binalah semula dari tanah.” Mereka pun membangunnya semula dari tanah.

Ketika seorang bayi menyusu kepada ibunya, tiba-tiba lalu di hadapan mereka seorang lelaki cantik dan menunggang binatang yang cantik. Ibunya tertarik melihatnya dan berkata: “Ya Allah, jadikanlah anakku ini nanti seperti lelaki itu.” Tiba-tiba anak itu melepaskan puting ibunya, lalu melihat lelaki yang berjalan itu dan berkata: “Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.”

Kemudian anak itu menetek lagi kepada ibunya. Saya masih terbayang bagaimana Rasulullah SAW memperagakan keadaan bayi yang sedang menetek itu (kata yang meriwayatkan hadis ini). Baginda memasukkan telunjuk tangannya ke mulutnya yang mulia itu kemudian menghisapnya seperti bayi yang sedang menyusu. Kemudian Baginda Rasul bersabda: “Tidak lama kemudian lalu di hadapan mereka anak dara dalam keadaan pucat dan kepenatan kerana dikejar orang ramai dari belakang. Orang ramai yang mengejarnya itu berteriak-teriak: “Wanita penzina.... pencuri.” Dalam keadaan sesak nafas dan kesakitan, wanita itu hanya berkata: “Cukuplah Allah yang mengetahuinya dan Dialah sebaik-baik tempat berserah.”


Melihat yang demikian ibu yang menyusukan itu berkata: “Ya Allah, jangan jadikan nanti anakku ini seperti dia.” Bayi itu melepaskan susu ibunya, lalu memandang kepada wanita yang dikejar-kejar itu kemudian berkata: “Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia.” Di sana ada lagi hadis yang lebih lengkap ceritanya.

Ibunya merasa hairan dan berkata: “Tadi lalu seorang lelaki yang cukup hebat dan menarik kemudian ibu doakan supaya engkau dijadikan seperti dia malah engkau menjawab: “Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.” Tidak lama kemudian menyusul wanita malang yang dikejar-kejar orang, dipukuli dan dituduh mencuri dan berzina, kemudian ibu doakan supaya engkau jangan dijadikan seperti dia tetapi malah engkau berkata: “Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia.” Ibu ingin tahu mengapa engkau menjawab seperti itu ?” Bayi itu menjawab: “Lelaki yang kelihatan hebat dan bergaya itu tadi sebenarnya orang jahat, maka aku pun berdoa kepada Allah supaya jangan dijadikan seperti dia. Sedangkan wanita ini, yang mereka menuduhnya mencuri dan berzina, sebenarnya dia tidak ada mencuri dan berzina. Dia sebenarnya cukup mulia di sisi Allah dan aku pun memohon dijadikan seperti dia.”

Dari sumber yang lain, dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi SAW, bersabda:
“Ada empat orang yang pandai bercakap semasa kecil, iaitu anak Masyitah, zaman Firaun, anak yang menjadi saksi Nabi Yusuf (bersama Zulaikha) sahabat Juraij (yang dituduh anaknya) dan Isa bin Maryam.”
»»  READMORE...

November 27, 2010

DIALOG IMAM ABU HANIFAH

Imam Abu Hanifah pernah bercerita : "Ada seorang ilmuwan besar dari kalangan bangsa Romawi, tapi ia orang kafir. Ulama-ulama Islam membiarkan saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh karena itu dia segan bila bertemu dengannya. Pada hari kedua, manusia berkumpul di masjid, orang kafir itu naik mimbar dan mau mengadakan tukar pikiran dengan siapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam.

Di antara shof-shof masjid bangun seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah, dan ketika sudah berada dekat depan mimbar, dia berkata :"Inilah saya, hendak tukar pikiran dengan tuan". Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena mudanya. Namun dia pun angkat bicara :"Katakan pendapat tuan!". Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu bertanya :"Masuk akalkah bila dikatakan bahwa ada pertama yang tidak apa-apanya sebelumnya?". "Benar, tahukah tuan tentang hitungan?", tanya Abu Hanifah. "Ya". "Apa itu sebelum angka satu?". "Ia adalah pertama, dan yang paling pertama. Tak ada angka lain sebelum angka satu", jawab sang kafir itu. "Demikian pula Allah Swt". "Di mana Dia sekarang? Sesuatu yang ada mesti ada tempatnya", tanya si kafir tersebut. "Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?". "Ya". "Adakah di dalam susu itu keju?". "Ya". "Di mana, di sebelah mana tempatnya keju itu sekarang?", tanya Abu Hanifah. "Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu!", jawab ilmuwan kafir itu. "Begitu pulalah Allah, tidak bertempat dan tidak ditempatkan", jelas Abu Hanifah. "Ke arah manakah Allah sekarang menghadap? Sebab segala sesuatu pasti punya arah?", tanya orang kafir itu. "Jika tuan menyalakan lampu, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?", tanya Abu Hanifah. "Sinarnya menghadap ke semua arah". "Begitu pulalah Allah Pencipta langit dan bumi". "Ya! Apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?". "Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan", pinta Abu Hanifah.

Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas. "Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?". Ilmuwan kafir mengangguk. "Pekerjaan-Nya sekarang, ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mu`min di lantai, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu". Para hadirin puas dan begitu pula orang kafir itu.

»»  READMORE...

November 22, 2010

Rasulullah dalam perang uhud

( Disalin dari buku Sirah Nabawiyah karangan Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, alih bahasa (penerjemah): Aunur Rafiq Shaleh, terbitan Robbani Press]

Perang Uhud

Peperangan ini terjadi karena pada tokoh Quraisy yang tidak terbunuh pada perang Badr bersepakat untuk membalaskan dendam orang-orang yang terbunuh di Badr. Mereka ingin membentuk pasukan besar guna menghadapi Muhammad saw, dengan dukungan dana dari seluruh kekayaan yang dibawa oleh kafilah Abu Sofyan. Keinginan ini akhirnya disetujui oleh seluruh kaum Quraisy dengan didukung pula oleh unsur-unsur yang dikenal dengan nama Al-Ahabisy (suku-suku lain di sekitar Mekkah yang terikat perjanjian dengan suku Quraisy)- Bahkan mereka mengerahkan kaum wanita untuk mencegah larinya para tentara dari medan perang apabila kaum Muslimin melancarkan serangan kepada mereka. Kaum Quraisy keluar meninggalkan Mekkah dengan tiga ribu tentara.

Setelah mendengar berita tersebut, Rasulullah saw lalu mengadakan musyawarah dengan para shabatnya. Dalam musyawarah ini Rasulullah saw menawarkan kepada mereka antara keluar menjemput musuh di luar kota Madinah atau bertahan di dalam kota Madinah, jika musuh datang menyerang kota Madinah barulah kaum Muslimin menghadapi mereka dalam kota. Dari kalangan orang-orang tua, termasuk Abdullah bin Ubay bin Salul memilih tawaran (bertahan di dalam kota Madinah) sedangkan sebagian besar dari para sahabat yang tidak berkesempatan ikut perang Badr berkeinginan menghadapi musuh di luar kota Madinah, lalu mereka berkata :
"Wahai Rasulullah saw, bawalah kami ke luar menghadapi musuh kita agar mereka tidak menganggap kita takut dan tidak mampu menghadapi mereka.“

Golongan ini terus saja mendesak Rasulullah saw agar mau mengadakan perang di luar Madinah, sampai akhirnya beliau menyetujuinya. Kemudian Rasulullah saw masuk rumahnya lalu mengenakan baju perang dan mengambil senjatanya.

Melihat ini, lalu orang-orang yang mendesak Rasulullah saw tersebut menyesali diri karena mereka telah memaksa Rasulullah saw untuk melakukan sesuatu yang tidak diingininya sehingga mereka berkata kepada Rasulullah saw :
"Ya Rasulullah saw, kami tadi telah mendesak anda untuk keluar padahal tidak selayaknya kami berbuat demikian. Karena itu jika anda suka duduklah saja.“
Tetapi Rasulullah saw menjawab :
"Tidak pantas bagi seorang Nabi apabila telah memakai pakaian perangnya untuk meletakkannya kembali sebelum berperang.“

Kemudian Nabi saw keluar dari Madinah bersama seribu orang pasukannya menuju Uhud, pada hari Sabtu tanggal 7 Syawwal, tiga puluh dua bulan setelah Hijrah beliau. Ketika di tengah perjalanan antara Madinah dan Uhud, Abdullah bin Ubay bersama sepertiga pasukan umumnya terdiri dari pada pendukungnya melakukan desersi dan kembali pulang dengan alasan yang dikemukakannya:
"Dia (Nabi saw) tidak menyetujui pendapatku bahkan menyetujui pendapat anak-anak ingusan dan orang-orang awam. Kami tidak tahu untuk apa kami harus membunuh diri kami sendiri.“

Abdullah bin Harram berusaha mencegah mereka dan memperingatkan agar mereka tidak mengkhianati Nabi saw. Tetapi mereka menolak, bahkan tokoh mereka menjawab: “Seandainya kami tahu akan terjadi peperangan niscaya kami tidak akan mengikuti kalian.“

Bukhari meriwayatkan bahwa kaum Muslimin berselisih pendapat dalam menanggapi tindakkan desersi ini. Sebagian mengatakan: “Kita perangi mereka“, sedangkan sebagian yang lain mengatakan: “Biarkan mereka“. Lalu turunlah firman Allah swt mengenai hal itu :
"Maka mengapa kamiumenjadi dua golongan dalam menghadapi orang-ornag munafiq, padahal Allah swt telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu ingin memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan oleh Allah swt? Siapa pun yang disesatkan oleh Allah swt, sekali-kali kamu tidak mungkin mendapatkan jalan untuk memberi petunjuk kepadanya.“ QS An-Nisa : 88.

Menghadapi peperangan ini, sebagian sahabat mengusulkan supaya meminta bantuan kepada orang-orang Yahudi, mengingat mereka terikat perjanjian untuk saling tolong-menolong dengan kaum Muslimin. Tetapi Rasulullah saw menjawab:
"Kita tidak akan pernah meminta bantuan kepada orang-orang Musyrik untuk menghadapi orang-orang musyrik lainnya.“

Kemudian Rasulullah saw bersama para sahabatnya jumlah mereka tidak lebih dari tujuh ratus tentara mengambil posisi di sebuah dataran di lereng gunung Uhud dan membentengi diri di balik gunung itu, menghadap ke arah Madinah. Beliau menempatkan lima puluh pasukan pemanah di atas bukit yang terletak di belakang kaum Muslimin itu. Rasulullah saw menunjuk Abdullah bin Jubair sebagai pimpinan pasukan pemanah. Kepada pasukan pemanah Rasulullah saw berpesan :
"Berjagalah di tempat kalian ini dan lindungilah pasukan kita dari belakang. Bila kalian melihat pasukan kita berhasil mendesak dan menjarah musuh, janganlah sekali-kali kalian turut serta menjarah. Demikian pula andai kalian melihat pasukan kita banyak yang gugur, janganlah kalian bergerak membantu.“

Rafi‘ bin Khudaij dan Samurah bin Jundab keduanya berusia lima belas tahun, meminta kepada Rasulullah saw untuk ikut serta dalam peperangan ini. Karena terlalu muda, Rasulullah saw menolak permintaan tersebut. Tetapi setelah dijelaskan kepada beliau bahwa sesungguhnya Rafi‘ ahli memanah, akhirnya Rasulullah saw membolehkannya. Kemudian Samurah bin Jundab pun menghadap Rasulullah saw seraya berkata: “Demi Allah swt, aku bisa membantu Rafi‘.“ Akhirnya Rasulullah saw pun membolehkannya juga.

Pada hari menjelang Uhud, Rasulullah saw memegang sebilah pedang kemudian bertanya kepada pasukannya: "Siapakah di antara kalian yang sanggup memenuhi fungsi pedang ini?“ Abu Dujanah maju seraya menjawab: “Aku sanggup memenuhi fungsinya.“ Ia kemudian menerima pedang tersebut dari tangan Rasulullah saw. Ia mengeluarkan pedang tersebut dari tangan Rasulullah saw. Ia mengeluarkan selembar kain merah lalu diikatkan di kepala (kebiasaan Abu Dujanah jika ingin berperang sampai mati) kemudian ia berjalan mengelilingi barisan dengan membanggakan diri. Melihat ini Rasulullah saw bersabda :
"Sesungguhnya cara berjalan seperti itu dimurkai oleh Allah swt , kecuali pada tempat (dan peristiwa) seperti ini (perang).“

Kemudian Rasulullah saw menyerahkan panji kepada Mush‘ab bin Umair. Sementara itu pasukan sayap kanan kaum Musyrikin di bawah pimpinan Khalid bin Walid dan sayap kiri di bawah pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal.

Perang campuh pun berlangsung sangat sengit. Dalam pertempuran ini kaum Muslimin berhasil menyerang kaum Musyrikin secara mengagumkan, terutama Abu Dujanah, Hamzah bin Abdul Muttalib dan Mush‘ab bin Umair.

Mush‘ab bin Umair gugur di hadapan Rasulullah saw kemudian panji diambil oleh Ali bin Abi Thalib. Tidak lama kemudian Allah swt menurunkan pertolongannya kepada kaum Muslimin sehingga kaum Musyrikin lari mundur terbirit-birit tanpa menghiraukan wanita-wanita mereka yang menyumpah serapah kepada mereka. Kaum Muslimin terus mengejar mereka seraya mengumpulkan barang rampasan. Melihat ini pasukan pemanah yang bertugas mengawal di atas bukit tertarik untuk turun mengambil barang-barang rampasan bersama para sahabatnya yang lainnya, kecuali pimpinan mereka, Abdullah bin Jubair, bersama beberapa orang tetap setia menjaga bukit seraya berkata: “Aku tidak akan melanggar perintah Rasulullah saw.“ Melihat bukit yang sudah tidak terjaga kecuali orang beberapa orang itu, Khalid bin Walid bersama pasukannya pun melancarkan serangan balik, dan diikuti oleh Ikrimah. Sehingga mereka berhasil membunuh pasukan pemanah yang masih setia mengawal bukti termasuk Abdullah bin Jubair. Dan mulailah mereka melancarkan serangan balik kepada kaum Muslimin dari arah belakang.



Pada saat itulah kaum Muslimin terhenyak, mulai terdesak dan diliputi oleh rasa takut, sehingga mereka berperang dengan tidak teratur lagi. Pasukan Musyrikin semakin gencar melancarkan serangan sampai mereka berhasil mendekati tempat di mana Rasulullah saw berada. Mereka melempari beliau dengan batu, hingga beliau luka parah pada bagian rahangnya. Sambil mengusap darah yang mengalir di wajahnya, Rasulullah saw bersabda :
"Bagaimana mungkin suatu kaum mendapat kemenangan, sedangkan mereka mengalirkan darah di wajah Nabinya yang mengajak mereka kepada jalan Allah swt.“

Kemudian Fatimah datang membersihkan darah dari wajahnya sementara Ali mencucinya dengan air. Setelah dilihat darah tetap mengucur akhirnya Fatimah mengambil pelepah kering lalu dibakarnya sampai menjadi abu kemudian abu itu diusapkan ke tempat luka dan barulah darah itu berhenti mengalir.

Di saat-saat kritis itu tersiarlah desas-desus bahwa Rasulullah saw gugur dalam pertempuran, sehingga mengguncangkan hati sebagian kaum Muslimin dan menyebabkan orang-orang yang lemah iman di antara mereka berkata: "Apa gunanya kita di sini jika Rasulullah saw telah gugur?“ Kemudian mereka lari meninggalkan medan pertempuran. Tetapi menanggapi isu ini Anas bin Nadhar berkata : “Bahkan untuk apa lagi kalian hidup sesudah Rasulullah saw gugur?“ Kemudian sambil menunjuk kepada orang-orang munafiq dan lemah iman, Anas bin Nadhar berkata: “Ya Allah sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang mereka katakan itu, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang mereka ucapkan itu.“ Kemudian Anas bin Nadhar melesat dengan membawa pedangnya menerjang kaum Musyrikin hingga gugur sebagai syahid.

Selama peristiwa ini tampaklah semangat pengorbanan dan pembelaan yang mengagumkan dari para sahabat Rasulullah saw yang selalu berada di sekitarnya. Mereka rela mengorbankan raga dan nyawa demi membela dan menyelamatkan Rasulullah saw.

Bukhari meriwayatkan bahwa ketika orang-orang meninggalkan Nabi saw, dengan memerisaikan dirinya dari desakan panah-panah kaum Musyrikin, Abu Thalhah adalah seorang pemanah ulung dan selalu tepat mengenai sasarannya. Setiap anak panah yang dilepaskan olehnya ke arah kaum Musyrikin selalu diamati oleh Rasulullah saw, pada sasaran manakah anak panah itu menancap. Kemudian Abu Thalhah berkata: “Demi ayah dan ibuku, yang menjadi tebusanmu, tak usahlah anda mengamatiku nanti terkena panahan musuh. Biarlah mengenai leherku asalkan lehermu selamat.“

Abu Dujanah melindungi Nabi saw dengan dirinya, sementara panah-panah musuh bertubi-tubi menghujam di punggungnya. Demikian pula Ziyad bin Sakan. Ia memerangi Rasulullah saw dengan dirinya sampai gugur bersama lima orang sahabatnya. Menurut riwayat Ibnu Hisyam orang yang terakhir gugur melindungi Nabi saw hingga roboh karena luka yang mengenainya, lalu Rasulullah saw berkata: “Dekatkanlah dia kepadaku.“ Kemudian diletakkan kepalanya di atas kaki beliau dan akhirnyaia menghembuskan nafasnya yang terakhir berbantalkan kaki Rasulullah saw.

Selang sekian lama pertempuran di antara kedua belah pihak pun mulai mereda, dan berakhir. Kaum Musyrikin mulai meninggalkan medan pertempuran dengan rasa bangga atas kemenangan yang diraihnya. Sementara itu kaum Muslimin terkejut melihat para sahabat yang berguguran di antaranya Hamzah bin Abdul Muttalib, Al Yaman, Anas bin Nadhar, Mush‘ab bin Umair dan lainnya. Rasulullah saw sendiri sangat berduka cita atas kematian pamannya, Hamzah bin Abdul Muttalib, apalagi setelah melihat mayatnya yang dibedah perutnya dan diiris hidung serta telinganya oleh musuh. Selanjutnya Rasulullah saw menguburkan mayat-mayat itu dua-dua dalam satu kain lalu bertanya: “Siapakah yang paling banyak hafal al-Quran?“ Setelah diberitahukan lalu Rasulullah saw memasukkannya lebih dahulu ke liang lahat. Sesudah itu Rasulullah saw besabda: “Aku menjadi saksi bagi mereka pada Hari Kiamat.“ Rasulullah saw memerintahkan agar mereka dikuburkan berikut pakaian dan darah mereka apa adanya, dengan tidak perlu dimandikan dan dishalatkan.

Orang-orang Yahudi dan Munafiq mulai menunjukkan kebencian mereka kepada kaum Muslimin. Abdullah bin Ubay bin Salul bersama kawan-kawannya berkata kepada kaum Muslimin: “Seandainya kalian mengikuti kami niscaya tidak ada korban yang berjatuhan di antara kalian.“ Kemudian mereka memperolok kaum Muslimin dengan mempertanyakan kemenangan yang pernah mereka impikan bersama Rasulullah saw. Lalu Allah swt menurunkan sejumlah ayat dari surat Ali-Imran sebagai komentar dan jawaban terhadap celotehan orang-orang Yahudi dan Munafiqin tersebut, di samping merupakan penjelasan tentang hikmah dari peristiwa yang terjadi di Uhud. Ayat-ayat itu ialah :
"Dan (ingatlah) ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu dalam rangka menempatkan para Mukmin pada beberapa posisi untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.“ QS Ali-Imran : 121.

"Orang-orang yang tidak turut berperang itu berkata kepada saudara-saudaranya: “Sekiranya mereka mengikuti kita tentulah mereka tidak terbunuh.“ Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.“ QS Ali-Imran : 168.

Pada Sabtu sore Rasulullah saw meninggalkan Uhud dan pada malam harinya bermalam di Madinah bersama pada sahabatnya. Pada malam itu kaum Muslimin mengobati luka-luka mereka. Setelah melaksanakan shalat Shubuh pada hari Ahad, Rasulullah saw memerintahkan Bilal untuk mengumumkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan kepada para sahabatnya agar keluar mengejar musuh. Perintah ini hanya ditujukan kepada para sahabat yang ikut dalam peperangan kemarin. Kemudian Rasulullah saw meminta diambilkan panjinya yang belum dilepas lalu menyerahkan kepada Ali bin Thalib ra. Dengan kondisi yang masih belum pulih dan serba lemah, para sahabat itu melesat keluar mengejar musuh sampai ke Hamra‘ul Asad (sebuah tempat yang terletak sepuluh mil dari Madinah). Di sinilah kaum Muslimin menyalahkan api unggun berukuran besar sehingga dapat dilihat dari tempat yang jauh di samping mengesankan banyaknya jumlah mereka.

Di saat itulah Ma‘bad bin Ma‘bad al-khuza‘I (seorang mssyrik dari suku Khuza‘ah) lewat dan melihat kaum Muslimin. Setelah itu ia melanjutkan perjalanannya dan bertemu dengan kaum Musyrikin yang sedang berpesta pora membanggakan kemenangan mereka di Uhud, dan merencanakan kembali lagi ke Madinah untuk menumpas kaum Muslimin tetapi dicegah oleh Shafwan bin Umaiyah. Ketika Abu Sofyan melihat Ma‘bad ia bertanya: “Wahai Ma‘bad ada gerangan apa di sana ? Ma‘bad menjawab:“ Celaka ! Sesungguhnya Muhammad bersama pada sahabatnya dalam jumlah besar yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, telah keluar mengejar kalian. Dengan semangat berkobar-kobar dan kebencian yang belum pernah aku lihat sebelumnya, mereka ingin berhadapan dengan kalian.“ Dengan itulah Allah swt , menimbulkan rasa takut di hati kaum Musyrikin sehingga mereka segera mengangkat kaki berangkat menuju Mekkah. Rasulullah saw tinggal di Hamra‘ul Asad pada hari Senin dan Selasa. Rabu kembali ke Madinah.

Beberapa Ibrah

Perang Uhud ini memberi banyak pelajaran penting kepada kaum Muslimin pada setiap masa. Semua peristiwa yang telah kami jelaskan terdahulu seolah-olah menjadi pelajaran yang bersifat aplikatif dan operasional, yang mengajarkan kepada kaum Muslimin cara mencapai kemenangan dalma pertempuran melawan musuh , dan cara menghindari kegagalan dan kekalahan. :

1.- Di dalam peperangan ini tampak pula prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Rasulullah saw, yaitu bermusyawarah besama para sahabatnya dalam setiap urusan yang memerlukan syura dan pembahasan. Tetapi di sini kita mencatat satu hal yang tidak kita dapati pada musyawarah menjelang Badr. Yaitu bahwa Nabi saw tidak mau mencabut kembali persetujuannya atas pengusulan para sahabat yang menghendaki agar peperangan di tandingkan di luar Madinah, setelah beliau memakai baju perang dan mengambil persiapan perangnya, sekalipun mereka menyatakan penyesalan mereka dan menarik kembali usulan mereka itu, serta mengharap Rasulullah saw agar tinggal saja di Madinah jika beliau berpendapat demikian. Tampaknya pada waktu musyawarah Nabi saw cenderung atau menampakkan kecenderungan terhadap usulan yang menginginkan agar kaum Muslimin menunggu musuh di Madinah.

Barangkali hikmah yang terkandung dalam masalah ini, antara lain bahwa memperbincangkan kembali suatu masalah yang sudah diputuskan apalagi setelah Nabi saw muncul di tengah kaum dan para sahabatnya seraya memakai baju perang dan mengangkat senjatanya adalah suatu tindakan di luar prinsip syura khususnya menyangkut masalah-masalah peperangan yang memerlukan di samping musyawarah ketegasan dan kepastian sikap. Di samping itu kesan yang akan timbul jika Nabi saw mencabut persetujuannya setelah semuanya melihat Nabi saw telah bersiap-siap untuk perang, seakan Nabi saw tidak memiliki kehendak dan tekat yang kuat dan pasti. Bahkan biasanya sikap ragu seperti itu muncul karena rasa takut dan kekhawatiran yang tidak berasalan. Oleh sebab itu, Nabi saw menjawab mereka dengan tegas dan pasti :
"Tidak pantas bagi seorang Nabi apabila telah memakai baju perangnya untuk meletakkannya kembali sebelum berperang.“

2.- Dalam peperangan ini kaum Munafiqin menunjukkan sikap mereka yang asli. Sikap mereka ini mengandung banyak hikmah dan tujuan, di antara yang terpenting ialah wujud penyapubersihan unsur-unsur Munafiqin dari kaum Mukminin. Selain itu, sikap kaum Munafiqin tersebut memberikan berbagai manfaat bagi kaum Muslimin untuk menghadapi masa-masa mendatang.

Telah kita ketahui bagaimana Abdullah bin Ubay bersama tiga ratus pengikutnya berkhianat kepada Rasulullah saw, dan para sahabatnya setelah keluar dari kota Madinah. Konon pengkhianatan ini disebabkan karena Nabi saw, mengikuti pendapat anak-anak muda dan tidak mengambil pendapat orang-orang tua dan para intelektual seperti dirinya (Abdullah bin Ubay). Tetapi sesungguhnya tidaklah demikian halnya. Ia (Abdullah bin Ubay) melakukan tindakan pengkhianatan itu hanya karena tidak mau berperang. Sebab ia tidak siap menghadapi segala resikonya. Itulah ciri khas utama kaum Munafiqin: ingin mengambil keuntungan-keuntungan yang terdapat dalam Islam dan menjauhi segala tanggung jawab dan resikonya. Sesuatu yang mengikat mereka dengan Islam ialah salah satu di antara dua hal : Harta rampasan yang mereka idamkan atau bencana yang dapat mereka elakkan.

3.- Dalam peperangan ini Rasulullah saw tidak mau meminta bantuan kepada orang-orang non-Muslim kendatipun jumlah kaum Muslimin masih sangat sedikit. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘d di dalam Thabaqat-nya, Rasulullah saw bersabda :
"Kami tidak akan pernah meminta bantuan kepada orang-orang Musyrik untuk menghadapi orang-orang Musyrik lainnya.“

Muslim meriwayatkan bahwa Nabi saw pernah berkata kepada seorang laki-laki yang ingin berperang bersamanya di peperangan Badr :
"Apakah kamu beriman kepada Allah swt?“ Orang itu menjawab: “Tidak“, Nabi saw bersabda: “Kembalilah, karena aku tidak akan meminta bantuan kepada seorang Musyrik.“

Berdasarkan kepada hal di atas jumhur ulama‘ berpendapat, tidak boleh meminta bantuan orang-orang kafir dalam berperang. Imam Syafi‘I menjelaskan hal ini dengan mengatakan: “Jika Imam melihat orang kafir tersebut memiliki pandangan yang baik dan jujur kepada kaum Muslimin serta sangat diperlukan bantuannya, (maka boleh meminta bantuannya), tetapi jika tidak demikian maka tidak boleh.“

Barangkali pendapat Imam Syafi‘I yang sesuai dengan beberapa kaidah dan dalil. Diriwayatkan bahwa Nabi saw menerima bantuan Sofwan bin Umaiyah pada perang Hunain. Dan masalah ini termasuk ke dalam kerangka apa yang disebut syari'ah (kebijaksanaan Imam). Kami akan menyebutkan perbedaan antara apa yang dilakukan Rasulullah saw di Hunain serta apa yang dilakukan Rasulullah saw di Badr dan Uhud pada pembahasan mendatang insya Allah.

4.- Hal yang perlu direnungkan ialah fenomena Samurah bin Jundab dan Rafi‘ bin Khudaij. Keduanya baru berusia lima belas tahun. Bagaimana kedua anak ini datang kepada Rasulullah saw meminta ijin agar diperkenankan ikut serta dalam peperangan. Suatu peperangan yang didasarkan pada kesiapan mati dan sangat tidak seimbang. Kaum Muslimin yang jumlahnya tidak lebih dari tujuh ratus orang dengan kaum Musyrikin yang jumlahnya lebih dari tiga ribu tentara.

Anehnya fenomena ini oleh para musuh Islam dianalisis dengan bukti bahwa bangsa Arab sejak dahulu selalu hidup dalam situasi peperangan dan pertempuran. Sehingga mereka (orang-orang Arab) tumbuh dalam nuansa dan suasana itu. Oleh sebab itu, mereka (tua ataupun muda) memandang peperangan sebagai sesuatu yang tidak perlu ditakutkan.

Tidak diragukan lagi bahwa analisis ini dengan sengaja tidak mau melihat dan mencatat realitas desersi yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul bersama tiga ratus pengikutnya karena takut terhadap resiko peperangan, dan menginginkan keselematan jiwanya. Juga tidak mau melihat kepada orang-orang yang ingin menikmati hasil panen kota Madinah pada musim panas dan menolak seruan Rasulullah saw untuk berperang dengan mengatakan: “Janganlah kalian berperang pada musim panas.“ Bahkan analisis tersebut sama sekali tidak mau melihat jumlah mereka lebih banyak ketimbang kaum Muslimin, dan rasa takut yang menghantui mereka padahal mereka adalah orang-orang Arab yang tumbuh, sebagaimana istilah mereka, dibawah naungan peperangan.

Sulit sekali bagi orang yang bersikap objektif untuk menghindari satu aksioma yang menegaskan bahwa munculnya kesiapan untuk menghadapi kematian seperti yang terlihat pada fenomena anak-anak tersebut (Samurah bin Jundab dan Rafi‘ bin Khudaij) adalah karena dorongan keimanan yang telah menguasai hatinya dan hasil mahabbah terhadap Rasulullah saw. Bila iman dan mahabbah ini telah terbentuk maka kesiapan itu pasti akan muncul. Sebaliknya, bila iman dan mahabbah itu tidak ada atau lemah maka jangan diharap kesiapan tersebut akan muncul.

5.- Memperhatikan siasat peperangan yang diterapkan Rasulullah saw dalam peperangan ini (terutama dalam menempatkan posisi pasukan pemanah yang bertugas mengawasi di atas bukit, betapapun situasi yang terjadi) tampaklah :

Pertama,
Keahlian Rasulullah saw di bidang taktik dan strategi kemiliteran. Beliau adalah guru besar di bidang strategi dan seni peperangan. Tidak diragukan lagi bahwa Allah swt telah membekali keahlian yang langka ini kepada beliau. Tetapi perlu diingatkan bahwa kejeniusan dan keahlian ini hanya berfungsi sebagai faktor pendukung Kenabian dan kerasulan yang dibawanya. Kedudukan beliau sebagai seorang Nabi dan pembawa Risalah-lah yang menuntut agar beliau menjadi seorang yang jenius dan ahli di bidang kemiliteran, sebagaimana beliau dituntut untuk menjadi seorang yang ma‘shum dari segala bentuk penyimpangan. Hal ini telah dijelaskan pada bagian pertama dari buku ini, sehingga tidak perlu diulas kembali.

Kedua,
Bahwa pesan-pesan yang disampaikan Rasulullah saw kepada para sahabatnya yang sangat erat dengan apa yang akan terjadi setelah itu, yaitu pelanggaran sebagian pasukan pemanah terhadap perintah-perintah Nabi saw. Seolah-olah Nabi saw telah mengetahui apa yang akan terjadi melalui firasat Kenabian atau Wahyu dari Allah swt, sehingga beliau perlu mewanti-wanti mereka dengan wasiat-wasiat dan berbagai perintah. Dengan demikian seolah-olah beliau sedang melakukan suatu manuver yang hidup bersama para sahabatnya untuk melawan musuh mereka yaitu hawa nafsu dengan segala ketamakannya kepad harta dan rampasan. Suatu manuver betapapun, sangat bermanfaat. Hasil negatif dari suatu manuver mungkin saja faedahnya lebih besar daripada hasil yang positif.

6.- Abu Dujanah setelah mengambil pedang dari tangan Rasulullah saw langsung berjalan mengelilingi barisan kaum Muslimin dengan cara yang amat pongah, tetapi tindakan ini tidak diingkari oleh Rasulullah saw. Beliau hanya berkomentar:
"Ini adalah gaya berjalan yang dimurkai Allah swt, kecuali di tempat seperti ini (peperangan).“

Hal ini menunjukkan bahwa setiap bentuk kesombongan yang diharamkan dalam situasi biasa, terhapus keharamannya dalam situasi perang. Di antara bentuk kesombongan yang diharamkan kepada setiap Muslim ialah berjalan dengan cara sombong, tetapi hal tersebut menjadi kebaikan di medan peperangan. Di antara bentuk kesombongan yang diharamkan ialah menghias rumah atau bejana dengan emas dan perak. Tetapi menghiasi alat-alat perang dan senjatanya dengan emas dan perak tidak dilarang. Kesombongan yang ditampakkan di sini (dalam situasi perang) pada hakekatnya hanyalah merupakan ungkapan kewibawaan Islam di hadapan musuh-musuhnya, di samping merupakan perang urat saraf yang tidak boleh dilupakan fungsinya oleh kaum Muslimin.

7.- Jika kita perhatikan masa berlangsungnya peperangan antara kaum Muslimin dengan musuh mereka di Uhud ini maka kita mendapat dua titik perhatian :

Pertama,
Di saat kaum Muslimin menjaga tempat-tempat mereka dan memelihara perintah-perintah yang mereka terima dari penglima mereka (Nabi saw). Apa hasil dari komitmen ini? Kemenangan begitu cepat diraih kaum Muslimin sehingga tidak lama berhasil mengobrak-abrik barisan lawan. Rasa takut begitu cepat merayap ke dalam hati kaum Kafir yang berjumlah tiga ribu itu sehingga mereka meninggalkan medan perang. Bagian inilah yang dikomentari oleh ayat al-Quran :
"Dan sesungguhnya Allah swt, telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan ijin-Nya.“ QS Ali-Imran : 152

Kedua,
Di saat kaum Muslimin mengejar kaum Musyrikin untuk menumpas setiap orang yang berhasil ditangkap dan mengambil barang-barang rampasan. Pada saat itulah para pasukan pemanah melihat dari atas gunung saudara-saudara mereka menebaskan pedang kepada musuh-musuh mereka yang lari meninggalkan medan pertempuran, dan kembali dengan membawa harta dan barang rampasan. Lalu timbullah keinginan mereka untuk ikut mengumpulkan barang rampasan. Keinginan inilah yang mengusik pikiran mereka sehingga timbullah anggapan bahwa masa berlakunya perintah-perintah yang diterima dari Rasulullah saw itu telah berakhir, dan mereka merasa sudah tidak terikat lagi dengan pesan-pesan itu serta tidak perlu lagi menunggu ijin dari Rasulullah saw untuk meninggalkan tempat mereka. Kendatipun ijtihad mereka ini ditentang oleh sebagian temannya terutama Amir (komandan regu) mereka, Abdullah bin Jubair, tetapi mereka tetap turun dan ikut mengambil barang rampasan. Apakah akibat dari tindakkan ini?

Rasa takut sebelumnya menyelimuti hati kaum Musyrikin kini berubah menjadi suatu keberanian baru! Khalid bin Walid yang tadinya lari menyurut pun kini mulai melihat peluang dan pintu untuk melancarkan serangan. Ia mengamati tempat-tempat di sekitarnya. Akhirnya ia mengetahui bahwa gunung yang semula dijaga dengan ketat kini telah ditinggalkan oleh pasukan pemanah. Lalu muncullah ide-ide kemiliteran di dalam benaknya. Dan bersama dengan pasukan Musyrikin Khalid bin Walid pun dengan cepat menyerbu ke atas gunung dan berhasil membunuh beberapa orang pasukan pemanah yang tidak ikut turun, lalu mereka dengan mudah menguasai medan dan melancarkan serangan balik menghujani panah kaum Muslimin dari belakang. Kali ini giliran kaum Muslimin yang dicekam rasa takut seperti yang telah kita ketahui. Bagian inilah yang dikomentari oleh Allah swt melalui firman-Nya :
"…sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu serta mendurhakai perintah (Rasulullah saw) sesudah Allah swt memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan apa pula yang menghendaki akherat. Kemudian Allah swt memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu ….“ QS Ali-Imran : 152

Perhatikanlah! Betapa berat resiko yang harus dihadapi akibat kesalahan besar tersebut? Betapa resiko itu menimpa semua personel kaum Muslimin !

Kesalahan yang dilakukan oleh beberapa orang di dalam pasukan kaum Muslimin telah menimbulkan bencana tragis yang menimpa semua orang. Bahkan Rasulullah saw pun tidak luput dari akibatnya. Itulah Sunnatullah yang berlaku di alam semesta ini. Keberadaan Rasulullah saw di tengah-tengah pasukan itu pun tidak dapat menangkal keberlangsungan Sunnatullah itu.

Sekarang bandingkanlah. Lebih besar mana antara kesalahan yang dilakukan oleh beberapa orang (pasukan pemanah) tersebut dengan sekian kesalahan yang dilakukan oleh kaum Muslimin pada hari ini, dalam berbagai aspek kehidupan kita, baik yang umum ataupun yang khusus? Renungkanlah semua ini, agar anda dapat menggambarkan betapa kasih sayang Allah kepada kaum Muslimin , karena tidak menghancurkan mereka sekalipun mereka melakukan berbagai kesalahan dan mengabaikan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar dan bersatu dalam satu Kalimat.

Dengan demikian, jelaslah bagi anda mengapa bangsa-bangsa Islam tidak berdaya menghadapi negara-negara tiran yang tidak percaya kepada Allah swt.

8.-Dalam peperangan ini Nabi saw mengalami cedera dan luka parah. Terperosok ke dalam lubang, bocor kepalanya, patah gigi, dan darahnya mengalir deras di wajahnya. Semua ini merupakan salah satu akibat dari kesalahan tersebut. Kesalahan beberapa orang prajurit karena melanggar perintah pimpinan. Tetapi apakah hikmah disebarluaskannya desas-desus tentang kematian Rasulullah saw, di barisan kaum Muslimin ?

Jawabannya,
Sesungguhnya keterikatan kaum Muslimin dengan Rasulullah saw dan keberadaannya di antara mereka sedemikain kuat, sehingga mereka tidak dapat membayangkan perpisahan dengan Rasulullah saw. Kematian Rasulullah saw adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benak mereka. Seolah-olah mereka membuang jauh-jauh kenyataan ini dari pikiran mereka. Tidak diragukan lagi seandainya berita kematian Rasulullah saw itu benar, niscaya berita itu akan meremuk-redamkan hati mereka dan mengguncangkan keimanan mereka, bahkan akan menimbulkan keguncangan jiwa yang demikian dasyat pada sebagian besar di antara mereka.

Hikmah dari isu kematian Rasulullah saw, bahwa ia menjadi salah satu pengalaman dan pelajaran kemiliteran yang sangat penting agar kaum Muslimin menyadari akan suatu hakekat yang harus dihadapinya, sehingga mereka tidak kembali murtad apabila Rasulullah saw harus meninggalkan mereka.

Demi untuk menjelaskan pelajaran penting ini maka diturunkanlah ayat al-Quran sebagai komentar terhadap kelemahan dann keterkejutan yang menimpa kaum Musyrikin ketika mendengar berita kematian Rasulullah saw. Firman Allah :
"Muhammad ini tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh sebelumnya telah berlalu beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau gugur dibunuh kamu berbalik kembali (murtad) ? Siapa saja yang murtad maka dia sama sekali tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah kelak memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." QS Ali-Imran : 144

Hasil positif dari pelajaran ini tampak dengan jelas ketika Rasulullah saw benar-benar meninggalkan mereka (wafat). Peristiwa (issu) Uhud inilah, dengan segenap ayat al-Quran yang diturunkan menyusul issu tersebut, yang memperingatkan dan menyadarkan kaum Muslimin kepada kenyataan ini, Sehingga mereka dengan berat hati dan rasa sedih telah siap menerima kematian Rasulullah saw, dan memikul beban amanah yang ditinggalkannya : dakwah dan Jihad di jalan Allah swt. Mereka bangkit memikul amanah dengan keimanan yang kokoh dan ketakwaan yang mantap kepada Allah swt.

9.- Mari kita renungkan kematian yang telah merengut nyawa para sahabat Rasulullah saw demi membela dan menyelamatkan Rasulullah saw dari berondongan anak panah dan lemparan batu. Satu demi satu, mereka berguguran di bawah hujan panah. Mereka berjuang dengan semangat tinggi demi menjaga nyawa Rasulullah saw, tanpa menghiraukan resiko yang ada. Dari manakah sumber pengorbanan yang menakjubkan ini ?

Kesemuanya ini tidak lain hanyalah bersumber dari :

Pertama,
Keimanan kepada Allah swt dan Rasul-Nya.

Kedua,
Kecintaan kepada Rasulullah saw keduanya itu merupakan sumber dan sebab munculnya perngorbanan yang menakjubkan tersebut. Setiap Muslim sangat memerlukan kedua hal ini. Tidaklah cukup seseorang mendakwakan diri beriman kepada masalah-masalah aqidah yang harus diimani, sebelum hatinya jaga dipenuhi oleh cinta kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu Rasulullah saw bersabda :
"Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, sehingga aku lebih dicintainya daripada hartanya, anaknya, dan semua manusia.“ (HR Muttafa‘alaihi)


Ini karena Allah swt telah memberikan perangkat akal dan hati pada diri manusia. Dengan akal, manusia dapat berpikir kemudian mengimani hal-hal yang wajib diimani. Sedangkan dengan hati, manusia dapat mempergunakannya untuk mencintai hal-hal yang dicintai Allah swt dan dan membenci hal-hal yang dibenci Allah swt, Rasul-Nya dan hamba-hamba-Nya yang shalih, niscaya akan dipenuhi oleh cinta hawa nafsu dan hal-hal yang diharamkan. Jika hati telah dipenuhi oleh cinta hawa nafsu dan kemungkaran maka janganlah diharap bahwa keyakinan seseorang (yang tidak disertai oleh rasa cinta itu) akan dapat menumbuhkan pengorbanan.

Seringkali dibicarakan tentang keinginan untuk menegakkan keutamaan (kebahagiaan) berdasarkan akal semata-mata. Tetapi kokohnya landasan ini? Inikah landasan yang baik? Sesungguhnya keutamaan, sebagaimana mereka katakan adalah sistem. Tetapi apakah keyakinan terhadap sistem ini dapat mengatasi kebahagiaan saya yang bersifat khusus? Sebenarnya prinsip yang dikhayalkan itu tidak lain hanyalah sekedar permainan kata. Tidak dalam kejahatanpun merupakan kecintaan kepada sistem dalam bentuk yang berlainan.

Oleh sebab itu pemerintah Amerika tidak dapat berpegang pada yang yang diyakini sebagai sesuatu yang berfaedah pada saat mengumumkan pengharaman khamar dan pelarangan penjualan di masyarakat pada tahun 1933. Karena, tidak lama setelah pelarangan tersebut para pembuat keputusan itu sendiri yang memelopori pelanggaran undang-undang tersebut. Mereka tidak senang terhadap keputusan yang dibuatnya sendiri. Akhirnya mereka menghapuskan kembali undang-undang itu dan kembali meneguk khamar dengan leluasa.

Sementara itu para sahabat Rasulullah saw yang pada waktu itu secara peradaban pengetahuan tentang berbagai bahaya dan faedah jauh di bawah orang-orang Amerika kini begitu mendengar perintah Allah agar menjauhi khamar, seketika mereka langsung menghancurkan botol-botol, guci-guci dan kantung-kantung penyimpangan khamar mereka seraya berteriak :
"Kami berhenti ya Allah, kami berhenti!“

Perbedaan antara dua gambaran dan realitas ini sangat jelas. Pada masyarakat Muslim ada sesuatu yang bersemayam di hatinya yang mengendalikan hawa nafsunya untuk mengikuti perintah dan hukum Allah.

Kecintaan yang terdapat di dalam hati para sahabat Rasulullah saw inilah yang membuat mereka bersedia menyerahkan nyawa mereka demi melindungi Rasulullah saw. Dalam perang Uhud ini kita dapat menyaksikan berbagai pengorbanan yang menakjubkan yang mengungkapkan pengaruh cinta ini di hati para sahabat.

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya :
"Siapa di antara kalian yang bersedia mencari berita untukku tentang keadaan Sa‘ad bin Rabi? Masihkah ia hidup atau sudah matikah?" Salah seorang Anshar menyatakan kesediaannya, kemudian pergi mencari Sa‘ad bin Rabi. Akhirnya Sa‘ad ditemukan dalam keadaan luka parah, sedang menanti datangnya ajal. Kepadanya orang Anshar itu memberitahu: “Aku disuruh Rasulullah saw untuk mencari engkau, apakah engkau masih hidup atau telah mati…“ Sa‘ad menjawab: “Beritahukan kepada beliau, bahwa aku sudah mati, dan sampaikanlah salamku kepada beliau. Katakan kepada beliau, bahwa Sa‘ad bin Rabi menyampaikan ucapan kepada anda (yakni Rasulullah saw): Semoga Allah swt melimpahkan kebajikan sebesar-besarnya atas kepemimpinan anda sebagai seorang Nabi yang telah diberikan kepada ummatnya ! Sampaikan juga salamku kepada pasukan Muslimin, dan beritahukan bahwa Sa‘ad bin Rabi berkata kepada kalian :
"Allah tidak akan memaafkan kalian jika kalian meninggalkan Nabi saw, sedangkan masih ada orang-orang hidup di antara kalian.“

Orang Anshar itu melanjutkan ceritanya: “Belum sampai kutinggalkan, Sa‘ad pun wafat. Aku lalu segera menghadap Nabi saw dan kusampaikan kepada beliau pesan-pesannya."

Jika cinta seperti ini telah menyelinap dan bertahta di dalam hati setiap diri kaum Muslimin pada hari ini, sehingga menjauhkan mereka dari syahwat dan egoisme mereka, dapatlah saya katakan: “Saat itulah kaum Muslimin akan tampil sebagai generasi baru dan mampu merebut kemenangan merka dari benteng-benteng kematian, serta mengalahkan musuh-musuh mereka betapapun rintangan yang harus dihadapinya.“

Jika anda bertanya tentang media untuk mencapai cinta ini, ketahuilah bahwa ia harus dicapai melalui banyak melakukan dzikir dan shalawat kepada Rasulullah saw banyak merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah swt dan nikmat-nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada kita, menghayati sirah Rasulullah saw dan akhlak-akhlaknya yang kesemuanya itu dilakukan setelah kemantapan (istiqmah) dan ibadah secara khusyu‘ dan berkomunikasi dengan Allah swt di setiap saat.

10.- Seperti disebutkan dalam riwayat Bukhari bahwa Nabi saw memerintahkan penguburan mayat-mayar para Syuhada berikut bercak-bercak darah yang merekat pada mereka dan tanpa menshalatkannya. Setiap satu kubur diisikan dua orang Syuhada.

Peristiwa ini dijadikan dalil oleh para ulama bahwa orang yang syahid dalam pertempuran jihad tidak perlu dimandikan dan dishalatkan. Ia harus dikuburkan sebagaimana adanya.

Imam Syafi‘I berkata: “Secara mutawatir hadits-hadits menyebutkan bahwa Nabi saw tidak menshalatkan mereka (syuhadah). Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw menshalatinya (Hamzah) sebanyak tujuh puluh kali, adalah riwayat lemah dan keliru.“

Para Ulama juga berpendapat, berdasarkan peristiwa ini, bahwa apabila keadaan dharurat maka dibolehkan penguburan lebih dari satu orang dalam satu kubur. Jika tidak dharurat tidak dibolehkan.

11.- Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan Rasulullah saw bersama para sahabatnya setelah sehari tiba di Madinah (mengejar kembali musuh Musyrikin di Hamra‘ul Asad), tampaklah kepada kita suatu pelajaran pertempuran Uhud secara jelas dan sempurna, di samping tampak pula bagi kita masing-masing dari kedua hasilnya baik yang positif ataupun yang negatif. Secara jelas dan pasti, terlihat bahwa kemenangan ini hanya bisa dicapai dengan kesabaran, ketaatan kepada perintah-perintah pimpinan yang baik, dan tujuan yang murni semata-mata demi agama.

Seperti telah kita ketahui, bahwa begitu Nabi saw mengumumkan agar pengejaran musuh dilakukan, para sahabat yang kemarin ikut berperang serta merta berkumpul dan melaksanakan tugas tanpa menghiraukan luka yang dideritanya bahkan belum ada yang sempat beristirahat di rumahnya. Mereka segera berangkat mengikuti Rasulullah saw mengejar kaum Musyrikin yang sedang dimabuk kemenangan. Pada kali ini tidak seorang pun di antara kaum Muslimin yang memiliki ambisi untuk merebut ghanimah atau kepentingan duniawi. Mereka hanya ingin mencapai kemenangan atau syahid di jalan Allah, walaupun dengan berbalut luka yang masih mengucurkan darah.

Tetapi bagaimanakah hasilnya ?

Kemenangan yang baru saja dirayakan oleh kaum Musyrikin ini tidak mampu mereka pertahankan atau lanjutkan, sebagaimana halnya luka parah yang diderita oleh kaum Muslimin itu tidak menghalangi sama sekali untuk merebut kembali kemenangan.

Bagaimana jalan ke arah ini? Jalannya ialah mukjizat Ilahi untuk menyempurnakan pelajaran dan pembinaan kepada kaum Muslimin. Secara tiba-tiba hati kaum Musyrikin merasa gentar karena membayangkan apa yang diceritakan oleh seorang kawan mereka tentang kaum Msulimin, bahwa Muhammad dan para sahabatnya kali ini datang membawa kematian untuk disebarkan di antara mereka, sehingga mereka pun lari tunggang langgang kembali ke Mekkah dengan hati kecut.

Bagaimana rasa takut kepada kaum Muslimin ini dapat masuk ke dalam hati mereka, padahal mereka baru saja memukul mundur kaum Muslimin? Hal ini terjadi semata-mata karena kehendak Ilahi yang telah menjadikan peristiwa ini secara keseluruhan sebagai pelajaran penting bagi kaum Muslimin, baik yang bersifat positif maupun negatif.

Sebagai penutup dan kelengkapan pelajaran Uhud, turunlah firman Allah :
"Orang-orang yang mentaati perintah Allah swt dan Rasul-Nya setelah mereka mendapat luka (dalam pertempuran Uhud) bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan orang yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.“ Namun, justru perkataan itu menambah keimanan mereka. Dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah swt menjadi Penolong kami dan Allah swt adalah sebaik-baik Pelindung.“ Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhahan Allah swt. Dan Allah swt mempunyai karunia yang besar.“
QS Ali-Imran : 172-174
»»  READMORE...
Sila Klick tanda penghargaan daripada blog ini..